MANAJEMEN SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH KALABAHI DALAM MENYIAPKAN MUTU PENDIDIKAN MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI (RI) 4.0 DI MASA PENDEMI COVID-19
Oleh :
Abdullah Rahman Shaleh
NPM: 20200530100006
PROGRAM STUDI DOKTOR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2020
Jakarta, 11 Desember 2020
Penulis
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kalabahi (SMA Muhi) adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang bercirikhas Islami dibawah naungan yayasan Muhammadiyah. Sejak didirikan pada tanggal 01 Juli 1993 oleh Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah melalui Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Alor, SMA Muhammadiyah Kalabahi banyak memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Alor terkhusus yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikan mereka. Tidak hanya kalangan Muslim yang ikut mendaftarkan putra putrinya untuk bersekolah di SAM Muhammadiyah Kalabahi namun justru lebih banyak dari kalangan Non Muslim. Kehadiran SMA Muhammadiyah mampu menjawab persoalan masyarakat dari segi pendidikan generasi di masa yang akan datang. Untuk itu, SMA Muhammadiyah Kalabahi terus berinovasi demi meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik dari masa ke masa, termasuk pelayanan manajemen mutu pendidikan di SMA Muhammadiyah Kalabahi. Sejak sebelum Covid-19, tidak terbayangkan oleh guru-guru akan melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menggunakan metode pembelajaran jarak jauh (daring) dengan media aplikasi online seperti zoom meeting, Microsoft teams, Google meet, Google classroom, Google duo zoom, learning management system dan lain-lain. Selama ini metode pembelajaran jarak jauh hanya sebatas pembahasan teori dan konsep semata kalaupun ada yang sudah mempraktikkan dalam pembelajaran masih sangat sedikit jumlahnya, namun dengan pandemi Covid-19 semuanya dipaksakan untuk menggunakan media aplikasi online yang diharapkan pembelajaran dapat berjalan secara baik dengan tetap menjaga proses dan kualitasnya. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, menjadi sebuah tantangan bagi SMA Muhi mewujudkan kesinambungan pendidikanyang terjadi dewasa ini yang kerapkali melibatkan unsur life skill, brains storming, dan leadership yang handal. Seiring waktu dan perkembangannya, SMA Muhi telah banyak menghasilkan lulusan yang berprestasi dalam lingkup pendidikan lanjutan formal dan informal. Hal tersebut didukung dengan sarana prasarana pendidikan yang ada. Selain itu, juga didukung oleh leadership/kepemimpinan kepala sekolah/madrasah yang kuat dan baik. Saat ini, dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam semakin dihadapkan kepada berbagai tantangan yang cukup berat. Karena umat Islam hidup di era modern yang penuh dengan tantangan dan sekaligus peluang. Di era seperti ini umat manusia ditantang agar memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang unggul, sehingga mampu bersaing dan merebut berbagai peluang yang ada di hadapannya. Umat manusia saat ini ditantang agar memiliki sikap yang kreatif, inovatif, dinamis, terbuka, demokratis, memiliki etos kerja yang tinggi, serta memiliki keandalan spiritual sebagai alat untuk menangkis berbagai pengaruh negatif (Nata, 2010, hal.319). Menyikapi hal tersebut, Nata (2010, hal.287) berpendapat bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam perlu dipersiapkan untuk masadepan yang lebih baik. Tetapi hingga saat ini masih terdapat sebagian masyarakat Indonesia yangmenggambarkan bahwa madrasah adalah sekolah hanya untuk orang-orang yang kurang mampu, letaknya di pedesaan atau dipinggiran kota, bangunannya sederhana dan reyot, gurunya kurang profesional, kurikulumnya hanya mengajarkan ilmu- ilmu keagamaan, sarana dan fasilitasnya serba minim dan tradisional, dan anggarannya jauh dari memadai, manajemennya sangat lemah, namanya kurang dikenal, dan lulusannya kurang bermutu dan tidak memiliki rasa percaya diri untuk bersaing di era globalisasi saatini. Berdasarkan hal tersebut, Muhaimin (2011, hal. 109) berpendapat bahwa lembaga pendidikan Islam khususnya madrasah masih banyak yang mutunya belum menggembirakan. Hal tersebut bisa juga kita lihat dari berbagai aspek yang terkait dengan kegiatan pendidikan Islam, mulai dari visi, misi, tujuan, dasar dan landasan pendidikan, tujuan kurikulum, tenaga pendidikan, metodologi pembelajaran, sarana prasarana, evaluasi, dan pembiayaan, secara keseluruhan masih mengandung permasalahan yang hingga kini belum dapat dipecahkan secara tuntas. Berkaitan dengan hal itu, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah/madrasah secara efektif dan efisien, maka perlu didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas pula. Salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan adalah kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan. (Mulyasa, 2009). Oleh karena itu kuatnya leadership/kepemimpinan kepala sekolah/madrasah menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dimadrasah.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dari beberapa permasalahan diatas maka dapat diidentifikasi sebagai berikut ; 1. Pandemi sangat mempengaruhi proses belajar mengajar sisa di sekolah sebagaiamana biasa, 2. Pandemi sangat mempengaruhi para guru kesulitan dalam memberikan proses belajar mengajar kepada para siswa di SMA Muhammadiyah Kalabahi, 3. Minimnya sarana dan pra sarana yang disiapkan oleh sekolah sangat menyulitkan peserta didik dan warga sekolah melakukan proses pembelajran seperti biasa, 4. Rendahnya manajemen sekolah sangat mempengaruhi mutu pendidikan di SMA Muhammadiyah Kalabahi 5. Pihak sekolah perlu menata kembali manajemen mutu pendidikan di SMA Muhammadiyah Kalabahi 6. Pihak sekolah perlu menyediakan sarana dan media belajar di SMA Muhammadiyah Kalabahi agar dapat meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik. 7. Manajemen Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kalabahi dalam Menyiapkan Mutu Pendidikan Menghadapi Revolusi Industri (RI) 4.0 Di Masa Pendemi Covid-19
C. BATASAN MASALAH Berangkat dari identifikasi masalah diatas, maka dalam makalah ini perlu dibuatkan pembatasan masalah agar mempersempit persoalan yang akan dibahas atau diteliti sehingga tidak melebar atau meluas. Oleh karena itu pembatasan masalah dalam makalah ini adalah pada poin nomor tujuh (7) yakni, Manajemen Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kalabahi Dalam Menyiapkan Mutu Pendidikan Menghadapi Revolusi Industri (RI) 4.0 Di Masa Pendemi Covid-19.
D. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana SMA Muhammadiyah Kalabahi Menyiapkan Manajemen Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era RI.4.0 di Masa Covid-19? 2. Bagaimana Upaya Yang Dilakukan Pihak Sma Muhammadiyah Kalabahi Menyiapkan Mnajemen Mutu Pendidikan Dalam Menghadapi Era RI.4.0 di Masa Covid-19? 3. Apa yang Menjadi Kendala Bagi Pihak Sma Muhammadiyah Kalabahi Dalam Menyiapkan Mnajemen Mutu Pendidikan Menghadapi Era RI.4.0 di Masa Covid-19?
E. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
E.1 Tujuan Adapun tujuan dan manfaat penelitian dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui Bagaimana SMA Muhammadiyah Kalabahi Menyiapkan Manajemen Mutu Pendidikan dalam Menghadapi Era RI.4.0 di Masa Covid-19. 2. Untuk menjelaskan Bagaimana Upaya Yang Dilakukan Pihak Sma Muhammadiyah Kalabahi Menyiapkan Mnajemen Mutu Pendidikan Dalam Menghadapi Era RI.4.0 di Masa Covid-19. 3. Untuk mengetahui Apa yang Menjadi Kendala Bagi Pihak Sma Muhammadiyah Kalabahi Dalam Menyiapkan Mnajemen Mutu Pendidikan Menghadapi Era RI.4.0 di Masa Covid-19.
E.2 Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Manfaat Teoritis a. Sebagai bahan alternatif untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa dalam penerapan pembelajaran di Sekolah b. Sebagai dasar pemikiran untuk penelitian selanjutnya, baik oleh peneliti sendiri maupun peneliti - peneliti lainya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa Untuk menambah wawasan serta ilmu pengetahuan dan mengenal cara belajar yang dapat menjadikan siswa lebih aktif dan interaktif. b. Bagi Sekolah Manfaat bagi sekolah adalah untuk menjadi bahan pertimbangan terhadap peningkatan kinerja guru dan sebagai upaya peningkatan kualitas pengelolaan pengajaran.
BAB II LANDASAN TEORI
A. MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN
1. Pengertian Manajemen Mutu Pendidikan Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesi. Dikatakan ilmu karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistemik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Dikatakan kiat karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu profesi, manajer dan para profesional dituntut oleh suatu kode etik. (Fatah, 2009). Terry menjelaskan “manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah “managing” pengelolaan, sedangkan pelaksananya disebut dengan manager atau pengelola. (Terry, 2000). Stoner dikutip James A.F., (1982) menjelaskan manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan Mutu secara umum adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari bidang atau jasa yang menunjukkan dalam kemampuan memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan atau output pendidikan (Depdiknas, 2001). Poewardarminta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Mutu” berarti karat. Baik buruknya sesuatu, kualitas, taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan). (KBBI, Bumi Aksara, 1989). Pengertian mutu secara umum adalah gambaran atau karateristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan. Pendidikan yang bermutu bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, dia merupakan hasil dari suatu proses pendidikan berjalan dengan baik, efektif dan efesien. Menurut Joremo S. Arcaro mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses dan out put pendidikan. (Joremo S Arcaro, 2005) Ace Suryadi dan H.A.R Tilaar menjelaskan bahwa mutu pendidikan adalah merupakan kemampuan sistem pendidikan yang diarahkan secara efektif untuk meningkatkan nilai tambah faktor input agar menghasilkan out put yang setinggi-tingginya. (Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, 1994). Istilah manajemen mutu dalam pendidikan sering disebut sebagai Total Quality Manajement (TQM). Aplikasi konsep manajemen mutu- TQM dalam pendidikan ditegaskan oleh Sallis yaitu Total Quality Management adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus-menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelangganya, saat ini dan untuk masa yang akan datang. Definisi tersebut menjelaskan bahwa manajemen mutu-TQM menekankan pada dua konsep utama. Pertama, sebagai suatu filosofi dari perbaikan terus menerus (continous improvement) dan kedua, berhubungan dengan alat- alat dan teknik seperti “brainstorming ” dan “force field analysis” (analisis kekuatan lapangan), yang digunakan untuk perbaikan kualitas dalam tindakan manajemen untuk mencapai kebutuhan dan harapan pelanggan. Total Quality Management (manajemen kualitas total) adalah strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Total Quality Management (TQM) adalah suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan untuk kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta memberi keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi serta masyarakat. TQM adalah sebagai suatu filosofi dan suatu metodologi untuk membantu mengelola perubahan. Inti dari TQM adalah perubahan budaya dari pelakunya. Sedangkan Slamet menegaskan bahwa TQM adalah suatu prosedur di mana setiap orang berusaha keras secara terus menerus memperbaiki jalan menuju sukses. TQM bukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku, tetapi merupakan proses-proses dan prosedur- prosedur untuk memperbaiki kinerja. TQM juga menselaraskan usaha-usaha orang banyak sedemikian rupa sehingga orang-orang tersebut menghadapi tugasnya dengan penuh semangat dan berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen mutu adalah suatu proses atau kerangka kerja dalam proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya dalam mencapai. (Sulipan, 2018) 2. Ruang Lingkup Manajemen Mutu Pendidikan Manajemen mutu pendidikan tidak lepas dari tiga model yaitu: input, proses dan output. Dalam usaha peningkatan mutu dengan menggunakan model ini, ada beberapa kriteria dan karakteristik sekolah yang harus dipenuhi sebagai berikut: a. Input Pendidikan Input pendidikan meliputi aspek sebagai berikut: 1) Memiliki Kebijakan Mutu Lembaga pendidikan secara eksplisit menyatakan kebijakannya tentang mutu yang diharapkan. Dengan demikian gerak nadi semua komponen lembaga tertuju pada peningakatan mutu sehingga semua pihak menyadari akan pentingnya mutu. Kesadaran akan pentingnya mutu yang tertanam pada semua gerak komponen sekolah akan memberikan dorongan kuat pada upaya- upaya atau usaha-usaha peningkatan mutu. 2) Sumber Daya Tersedia dan Siap Sumber daya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsung proses pendidikan di sekolah. Tanpa sumber daya yang memadai, proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai, yang pada gilirannya mengakibatkan sasaran sekolah tidak akan tercapai. Sumber daya dapat dibagi menjadi dua, sumber daya manusia dan sumber daya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan dan lain sebagainya) dengan penegasan bahwa sumber daya selebihnya tidak akan mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah tanpa adanya campur tangan sumber daya manusia. (Depdiknas, 2000). 3) Memiliki Harapan Prestasi Tinggi Sekolah mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. Demikian juga dengan guru dan peserta didik, harus memiliki kehendak kuat untuk berprestasi sesuai dengan tugasnya. 4) Fokus Pada Pelanggan (Khususnya Peserta Didik) Pelanggan, terutama peserta didik, harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. Artinya, semua input dan proses yang dikerahkkan di sekolah, tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar- benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari peserta didik. Syafaruddin membuat kategorisasi pelanggan dunia pendidikan menjadi dua bagian, yaitu pelanggan dalam (internal customer) yang terdiri dari: pegawai, pelajar dan orang tua pelajar. Sementara yang termasuk pelanggan luar (exsternal customer) adalah: perguruan tinggi, dunia bisnis, militer dan masyarakat luas pada umumnya. (Syafaruddin, 2002). 5) Input Manajemen Sekolah memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah dalam mengelola sekolahnya secara efektif. Input manajemen yang dimaksud adalah: tugas yang jelas, rencana yang rinci, dan sistematis, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panutan bagi warga sekolah untuk bertindak, dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efesien untuk menyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. (Depdiknas, 2000). b. Proses dalam Pendidikan 1) Efektifitas Proses belajar Mengajar Tinggi Sekolah memiliki efektifitas proses balajar mengajar (PBM) yang tinggi. Proses belajar mengajar yang menjadikan peserta didik sebagai faktor utama pendidikan. Dalam hal ini guru harus menjadikan peserta didik memiliki kecakapan untuk belajar dan memperoleh pengetahuan tentang cara belajar yang efektif (learning how to learn). Untuk itu guru harus mampu menciptakan iklim belajar yang menyenangkan (joyful learning) sehingga peserta didik tidak merasa tertekan atau terpaksa ketika menghadapi pembelajaran di dalam kelas. (Mulyasa, 2002). 2) Kepemimpinan yang Kuat Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan semua sumber daya yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor utama dalam mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah dikatakan berkualitas apabila kepala sekolah dapat memberi pengaruh yang lebih baik dalam tindakan-tindakan kinerjanya. Sehingga warga sekolah dapat bekerja maksimal sesuai dengan program yang telah ditentukan. Guru dan karyawan lainya, akan termotivasi melakukan perbaikan-perbaikan dalam kinerjanya, karena kinerja para anggota organisasi sekolah lahir dari ketrampilan dan kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jerome S. Arcaro, 2006). 3) Pengelolaan yang Efektik Tenaga Kependidikan Tenaga kependidikan, terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah. Sekolah hanyalah merupakan wadah. Oleh karena itu, pengelolaan tenaga kependidikan, mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, hingga pada tahap imbal jasa, merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah, karena itu sekolah yang bermutu mensyaratkan adanya tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. 4) Sekolah Memiliki Budaya Mutu Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan, bukan untuk mengadili atau mengontrol orang, (b) kewenangan harus sebatas tanggung jawab, (c) hasil harus diikuti rewards dan punishment, (d) kolaborasi, sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan basis atau kerja sama (e) warga sekolah harus merasa aman terhadap pekerjaannya, (f) atmosfir keadilan (fairnes) harus ditanamkan, (g) imbal jasa harus sesuai dengan pekerjaannya, dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. 5) Sekolah Memiliki Team Work yang Kompak, Cerdas, dan Dinamis Output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah, bukan hasil individual. Karena itu, budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah, antar individu dalam sekolah, harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari dalam sekolah. Budaya kolaboratif antar fungsi yang harus selalu ditumbuhkembangkan hingga tercipta iklim kebersamaan. (Depdiknas, 2000). 6) Sekolah Memiliki Kewenangan (Kemandirian ) Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan pada atasan. Untuk menjadi mandiri sekolah harus memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankannya. Iklim otonomi yang sedang digalakkan harus dimanfaatkan secara optimal oleh sekolah. Oleh karena itu inovasi, kreasi dan aksi harus diberi gerak yang cukup, yang pada akhirnya akan menumbuhkan kemandirian. (Mulyasa, 2002). 7) Partisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian dari kehidupannya. Hal ini dilandasi keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi, makin besar pula rasa memiliki. Makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggung jawab. Makin besar rasa tanggung jawab, makin besar pula tingkat dedikasinya. (Depdiknas, 2000). 8) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparasi) Manajemen Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan, penggunaan uang, dan sebagainya, yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat pengontrol. Pengelolaan sekolah yang transparan akan menumbuhkan sikap percaya dari warga sekolah dan orang tua yang akan bermuara pada perilaku kolaboratif warga sekolah dan perilaku partisipatif orang tua dan masyarakat. 9) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (Psikologis dan Fisik) Sekolah harus merupakan kenikmatan bagi warga sekolah. Sebaliknya, kemapanan merupakan musuh sekolah. Tentunya yang dimaksud perubahan di sini adalah berubah kepada kondisi yang lebih baik atau terjadi peningkatan. Artinya, setiap dilakukan perubahan, hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya terutama mutu peserta didik. 10) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya, ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. Evaluasi harus digunakan oleh warga sekolah, terutama guru untuk dijadikan umpan balik (feed back) bagi perbaikan. Oleh karena itu fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka peningkatan mutu peserta didik dan mutu pendidikan sekolahnya secara berkelanjutan. (Depdiknas, 2000).
BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian Penelitian pada dasarnya untuk menunjukan kebenaran dan pemecahan masalah atas apa yang diteliti untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan suatu metode yang tepat dan relevan untuk tujuan yang diteliti. Pengertian Metode Penelitian menurut Sugiyono (2014) adalah “Metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif asosiatif dengan pendekatan survey. Metode penelitian survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, wawancara terstruktur, dan sebagainya.
B. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan asosiatif, karena adanya variabel-variabel yang akan ditelaah hubungannya serta tujuannya untuk menyajikan gambaran secara terstruktur, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar variabel yang diteliti. Pengertian metode deskriptif menurut Sugiyono (2014) yaitu: “Suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel mandiri adalah variabel yang berdiri sendiri, bukan variabel independen, karena kalau variabel independen selalu dipasangkan dengan variabel dependen).” Dalam penelitian ini, metode deskriptif digunakan untuk menjelaskan tentang penerapan manajemen mutu pendidikan di SMA Muhammadiyah Kalabahi yang diterapkan oleh guru maupun kepala sekolah yang memiliki kewenangan untuk menerapkan hal itu.
C. Objek Penelitian Dalam penelitian yang penulis lakukan, objek penelitian yang diteliti yaitu Penerapan manajemen mutu pendidikan SMA Muhammadiyah Kalabahi dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 dimasa pandemic covid19 ini.
D. Model Penelitian Model penelitian merupakan model abstraksi dari fenomena-fenomena yang sedang diteliti. Dalam hal ini, sesuai dengan judul yang penulis kemukakan diatas adalah Manajemen Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kalabahi dalam Menyiapkan Mutu Pendidikan Menghadapi Revolusi Industri (RI) 4.0 di Masa Pendemi Covid-19.
BAB IV PENUTUPAN
A. KESIMPULAN Pendidikan Islam sebagai proses pengarahan perkembangan manusia pada sisi jasmani, akal, bahasa, tingkah laku, dan kehidupan sosial keagamaan yang diarahkan pada kebaikan menuju kesempurnaan, juga mempunyai kewajiban yang sama untuk memecahkan berbagai masalah. SMA Muhammadiyah Kalabahi adalah salah satu SMA bercirikhas Islam yang merupakan sekolah alternatif bagi generasi Alor yang ingin melanjutkan pendidikan mereka demi menggapai masa depan. Dalam prosesnya SMA Muhammadiyah Kalabahi perlu menyiapkan mutu pendidikan yang baik. Hal ini sangat diharapkan agar proses pendidikan berjalan dengan baik. Tentunya untuk meraih keberhasilan penerapan manajemen mutu dalam pendidikan itu memang tidak mudah. Maka diperlukan komitmen dan kerjasama yang baik antara lembaga terkait, pemerintah pusat dan daerah, serta institusi pendidikan setempat, serta masyarakat di sekitarnya. Jika manajemen ini dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada dengan segala dinamika dan fleksibilitasnya, maka akan terjadi perubahan yang cukup efektif bagi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan Islam dan pendidikan nasional.
B. SARAN Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari kesemprunaan. Olehnya itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi perbikan di masa-masa mendatang. Demikian makalah kami ini kami sajikan, semoga bermanfaat bagi kami pribadi dan pembaca sekalian dimanapun, aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. 2010. Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisme Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Aassegaf, Abd. Rachman. 2011. Filsafat Pendidikan Islam; Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994. Ali, Attabik. 2003. Kamus Inggris-Indonesia-Arab. Yogyakarta: Mukti Karya Grafika. Arifin, M. 1987. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bina Aksara. Azra, Azumardi. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Bastian , Aulia Reza. 2002. Reformasi Pendidikan: Langkah-langkah Pembaharuan dan Pemberdayaan Pendidikan Dalam Rangka Desentralisasi Sistem Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. Departemen Pendidikan nasional, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2000. Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Depdiknas, Jakarta, 2001. E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, karakteristik dan Implementasi, Remaja Rosda karya, Bandung, 2002. George R. Terry dan Leslie W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen, terj. G.A Ticoalu. Cet. Ketujuh, Bumi Aksara, Jakarta, 2000. James A.F. Manajement, Prentice/Hall International, Englewood Cliffs, New York, 1982. Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 2006. Joremo S Arcaro, 2005) Pendidikan Berbasis Mutu, Prinsip Prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Penerbit Riene Cipta, Jakarta, 2005. Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009. Nata, A. (2010). Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (3 ed.). Jakarta: Kencana Poewadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta, 1989. Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, PT. Grasindo, Jakarta, 2002. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Tags:
Karya Akademik